Oleh: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan
Negeri Perlis
Pernahkah Anda berada di posisi sulit: Keputusan Anda benar, tapi tidak
dipahami orang-orang terdekat?
Bahkan orang sehebat Umar bin Khattab pun pernah protes keras pada keputusan
Nabi Muhammad SAW. Ia merasa keputusan itu menghinakan umat Islam. Ia
bertanya, "Bukankah kita di pihak yang benar? Mengapa kita harus terima
syarat yang berat sebelah begini?"
Tapi jawaban Nabi singkat: "Aku ini utusan Allah. Aku tidak akan melawan
perintah-Nya."
Lalu apa yang terjadi kemudian? Apakah Nabi salah? Atau justru ada kejutan
besar yang tidak terduga?
Jawabannya ada di dalam Fiqh Ma'alat —ilmu tentang melihat AKIBAT
dari setiap tindakan, bukan sekadar tindakan itu sendiri.
- Rahasia di balik Perjanjian Hudaibiyah yang kontroversial
- Mengapa Nabi melantik 'Amru bin Al-'Ash—seorang muallaf 6 bulan—jadi panglima perang
- Tiga keputusan 'Amru yang bikin Nabi tersenyum, padahal orang lain menganggapnya aneh
- Pelajaran untuk pemimpin masa kini: Jangan terjebak pada hiruk-pikuk sesaat, fokuslah pada DAMPAK jangka panjang!
Ada satu momen dramatis dalam perjanjian itu: Seorang anak dipukul ayahnya
sendiri di depan Nabi, lalu harus dikembalikan untuk disiksa. Di situlah
Umar hampir tidak bisa menahan emosi. Tapi apa yang Nabi lihat yang tidak
mereka lihat?
Jawabannya akan mengubah cara Anda memandang setiap keputusan hidup.